thesarllo

Just another WordPress.com site

(Sekian Lama) Tanpamu Oktober 23, 2015

Filed under: Uncategorized — Thesarllo @ 5:25 am

Untuk kamu yang masih ada dalam ingatan.

Memiliki rasa untukmu mungkin kesalahan bagiku. Aku seperti menyerahkan hatiku untuk sepenuhnya kamu permainkan lalu kamu hancurkan. Tolong, jangan sebut aku bodoh karna hal ini. Aku hanya wanita yang baru ingin merasakan rasanya ikut dalam alunan mimpi indah yang kau katakan. Aku hanya wanita yang ingin tahu rasanya hanyut dalam dekapan pria sepertimu. Tepat ketika kamu memutuskan untuk mundur dari rancangan skenario yang kamu rajut sendiri.

Ada banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Aku rindu kamu dan selalu ingin tau kabarmu, tapi aku berusaha melawan perasaan itu, agar aku bisa cepat melupakanmu kemudian menjalani hariku senormal mungkin. Kamu telah menjadi bagian hidupku dan terlalu munafik rasanya jika aku tidak merasa kehilanganmu. Sekarang, kamu menjelma menjadi pribadi yang tak pernah aku tau sebelumnya. Menjadi terlalu asing bagiku. Mungkin itulah pilihan yang kamu ambil. Menjalani semua seakan dahulu tak pernah ada kata ‘kita’ diantara kamu dan aku. Bukankah berpura-pura seakan semua tak pernah terjadi adalah hal yang paling menyakitkan untuk dilewati?

Kemarin malam, aku tak tau apa yang seharusnya aku rasakan ketika melihatmu dengannya. Dengan wanita yang kamu pilih untuk mengisi hatimu. Wanita yang dengan senang hati kamu persilahkan untuk menata harimu. Wanita yang dengan bangga kamu genggam tangannya ketika berjalan. Wanita yang mampu menghadirkan senyum itu, senyum yang (dulu) mampu meluluhkanku. Wanita yang, ah entah apalagi yang mampu dibuatnya.

Aku rindu, Sayang. Aku rindu senyummu. Aku rindu tatapanmu. Aku rindu genggaman tanganmu. Aku rindu rangkulanmu. Aku rindu hangatnya dekapanmu. Yang kini kamu berikan untuknya. Karna dulu, jauh sebelum sekarang, aku pernah merasakan posisinya. Merasakan yang sekarang kamu lakukan untuknya.

Dari aku,

yang (dulu) pernah juga kau perjuangkan.

 

Setelah Kepergianmu Juli 9, 2015

Filed under: Uncategorized — Thesarllo @ 8:18 am

” Beri sedikit waktu agar ‘ku terbiasa bernafas tanpamu”

Lyla

Ini tidak pernah semudah yang aku bayangkan. Kepergianmu masih meninggalkan sesak yang tak mampu dijelaskan. Aku masih rajin memeriksa ponselku, berharap masih ada sisa perhatianmu untukku, berharap kamu menyapaku dan menghubungiku lebih dulu. Nyatanya, hanya anganku saja, kamu tidak mengabariku, dan aku sudah bisa menebak bahwa mungkin saat ini kamu tidak merasakan yang aku rasakan.

Berat rasanya menerima kenyataan bahwa kamu tidak lagi menyapaku lewat chat setiap pagi. Berat rasanya harus bisa bersikap biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Berat rasanya harus membiasakan diri kembali menganggapmu hanya sebagai ‘teman’ disaat sebelumnya aku pernah tau kalau kita bisa ‘lebih dari teman’.

Semestinya aku tak perlu lagi memikirkanmu dan seharusnya kamu sudah tak perlu lagi mampir dalam ingatanku, tapi entah mengapa; kamu justru berdiam di kepalaku. Ingatan tentang kamu justru semakin menggila setiap kali aku berusaha keras melupakanmu.

Jika waktu bisa diputar ulang, aku tentu akan menolak perkenalan yang kamu tawarkan. Jika waktu bisa diputar ulang, aku tentu hanya diam saat kamu tiba-tiba mengirim message saat itu. Jika tau akhir cerita kita akan sesedih ini, mungkin akan lebih baik jika aku tak pernah memulai semuanya, tak perlu tau tentangmu, tak perlu membalas chatmu, dan tak perlu masuk terlalu jauh dalam hidupmu. Jika tau kamu akan pergi secepat ini, aku tentu tidak akan membiarkan perasaan ini tumbuh dan bergantung padamu.

Kini, aku dudukĀ  dengan setumpuk berkas di depanku yang seharusnya sudah selesai kukerjakan. Tapi entah kenapa, untuk menyetuhnya saja terasa malas bagiku. Bayangan tentang kamu masih memenuhi setiap sudut pandangan dan pikiranku. Lantunan lagu Kerispatih pun, seakan menarikku ke dalam ingatan tentang kamu. Aku jadi ingat saat kamu menyanyikan lagu ini, aku hanya bisa tersenyum sendiri. Kamu memang tidak buruk dalam menyanyikannya, tapi entah kenapa setiap nada yang keluar darimu terdengar lucu bagiku. Entah mengapa setiap hal yang aku lakukan selalu membuatku mengingat sosokmu.

Inilah yang aku pelajari selama perpisahan ‘kita’ terjadi. Meskipun rasanya berat melihat punggungmu menjauh. Meskipun rasanya sulit melihat senyummu tak kini tak lagi untukku. Meskipun rasanya sedih melepaskanmu pergi, tapi aku dipaksa harus sanggup. Aku dipaksa untuk melupakanmu. Aku dipaksa harus terbiasa tanpamu.

Pelas-pelan, ketika mendengar namamu, ketika melihatmu, aku tak akan lagi merasakan luka.

Dari perempuan

yang kini kamu anggap hanya sekedar teman.